Pamong Belajar Balai Belajar Mitigasi Bencana

Pamong Belajar Balai Belajar Mitigasi Bencana

Pamong Belajar BP-PAUD dan Dikmas Jawa Timur berlatih mendirikan tenda dalam pelatihan mitigasi bencana, pekan lalu. (Lilik Rahajoe Lestari)

Surabaya - Sebanyak 38 orang Pamong Belajar (PB) BP-PAUD dan Dikmas Jawa Timur berlatih mitigasi bencana selama empat hari. Kegiatan untuk mengurangi dampak bencana itu berlangsung pada Rabu (23/1) – Sabtu (26/1) di BP-PAUD dan Dikmas Jawa Timur. Pelatihan ini terlaksana berkat dukungan tim Relawan Nusantara Penanggulangan Bencana (RNPB), Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Lembaga Manajemen Infaq (LMI).

Sekretaris Koordinator PB BP-PAUD dan Dikmas Jawa Timur, Yuniar Arie Riswanti, mengatakan, kegiatan ini ditujukan untuk membekali PB dengan kemampuan pertolongan pertama pada korban bencana. Pasalnya, Indonesia merupakan negara rawan bencana karena berada di atas lempeng aktif dunia, dan memiliki puluhan gunung api aktif.

Tim RNPB LMI yang terdiri dari M. Irfan Nurdiansyah, Susanto dan Guritno menyampaikan materi secara bergantian seputar mitigasi bencana. Dari karakteristik bencana, prinsip-prinsip penanggulangan bencana, peran masyarakat dalam penanggulangan bencana, cara mendirikan tenda, trauma healing sampai simulasi bencana.

Pada kegiatan simulasi bencana, peserta terbagi menjadi korban dan relawan. Peserta yang menjadi relawan mempraktekkan metode evakuasi korban seperti mengangkat korban ke atas tandu, memberikan pertolongan pertama pada korban, dan memindahkan korban ke titik kumpul. Peserta juga berlatih mendirikan tenda untuk tempat penampungan korban bencana.

 

 Pamong Belajar BP-PAUD dan Dikmas Jawa Timur berlatih mengangkat korban ke atas tandu dalam pelatihan mitigasi bencana, pekan lalu. (Lilik Rahajoe Lestari)

 Materi lain juga disampaikan tiga PB BP-PAUD dan Dikmas Jawa Timur yakni Edi Basuki, Bintoro Wibowo dan Yusuf Mualo. Ketiganya telah menerima pelatihan mitigasi bencana di Kemendikbud.

Edi menuturkan, daerah bencana bisa diketahui melalui penelitian namun saat terjadinya bencana tak bisa diprediksi. Untuk itu diperlukan kegiatan mitigasi bencana agar mampu mengenali potensi bencana dan strategi penanggulangannya untuk menekan jumlah korban jiwa dan harta.

Guritno mengungkapkan, kegiatan ini merupakan Program Siaga Bencana Alam (Ganala) yang menyasar berbagai kalangan seperti sekolah, universitas, komunitas, instansi, atau masyarakat. Program ini, lanjut dia, merupakan wujud kepedulian pihaknya dalam membantu pemerintah untuk mensosialisasikan sadar bencana kepada masyarakat. (lrl)

  

Pamong Belajar BP-PAUD dan Dikmas Jawa Timur berlatih teknik kompresi dada untuk korban yang detak jantungnya terhenti. (Lilik Rahajoe Lestari)

Dipost Oleh Super Administrator

PAUD - DIKMAS

Post Terkait

Tinggalkan Komentar