Kurikulum Kursus Bidang Pertanian Disusun

Kurikulum Kursus Bidang Pertanian Disusun

Megawati Santoso, tim KKNI, menyampaikan materi dalam “Penyusunan Kurikulum Kursus dan Pelatihan Berbasis Kompetensi”, di Bekasi, pada Kamis–Sabtu (2-4/5) lalu. (Dwi Retno Kurniasari)

Bekasi – Rendahnya minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian menjadi persoalan krusial saat ini. Untuk menjawab persoalan ini, Kemendikbud menawarkan solusi dengan menyusun kurikulum kursus di bidang pertanian.

Hal ini terlihat dalam kegiatan “Penyusunan Kurikulum Kursus dan Pelatihan Berbasis Kompetensi”, di Bekasi, pada Kamis–Sabtu (2-4/5) lalu. Kegiatan ini diikuti 25 orang peserta dari Jabodetabek, Bandung, Semarang, Kudus, Ponorogo  dan Surabaya. Mayoritas peserta merupakan akademisi sementara lainnya datang dari unsur praktisi kursus, pebisnis, dan pengembang program kursus yang akan dibuat kurikulumnya.

Ada lima kurikulum kursus yang disusun dalam kegiatan ini. Untuk kursus di bidang pertanian adalah Budidaya Padi Sawah. Adapun kursus lainnya adalah Teknik Perbaikan Body dan Cat Kendaraan, Desain dan Teknologi Busana, Pembuatan Olahan Ikan Tanpa Kulit Berbasis Surimi, dan Aplikasi Robotika Dalam Industri Manufaktur.

Pada penyusunan kurikulum kursus Budidaya Padi Sawah, hadir akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjajaran (Unpad), pebisnis, dan penyelenggara program Pendidikan Kecakapan Wirausaha Unggulan (PKWU) Vokasi Pertanian. Hadir pula Megawati Santoso dan SP Mursid, keduanya dari Tim Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) .

Megawati menyarankan untuk memilih jenis kursus di bidang pertanian yang lebih spesifik dan menjadi prioritas.

“Sebab, kursus budidaya tanaman sangat  luas,” katanya.

Oleh karena itu, dia menyarankan tim pembahas agar fokus menyusun Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan kurikulum kursus “Budidaya Padi Sawah”. Setelah melalui diskusi, tim pembahas menuntaskan penyusunan kurikulum kursus “Budidaya Padi Sawah” dan selanjutnya divalidasi oleh Ditbinsuslat.

Untuk diketahui, kursus bidang pertanian telah dilaksanakan sejak tahun 2018. Saat itu, Dirjen PAUD dan Dikmas Harris Iskandar memercayai Lembaga Kursus Lembah Kamuning, Kuningan, Jawa Barat, pimpinan Sudarmoko untuk melaksanakan PKWU Vokasi Pertanian. Sudarmoko dipercaya karena merupakan pengusaha agro yang pernah bekerja di perusahaan asing pada bidang teknologi biokimia.

Sudarmoko lantas memelopori pembelajaran integrated farming system (IFS). IFS ini merupakan sistem pertanian terpadu yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan sehingga dapat menjadi salah satu solusi peningkatan produktivitas lahan.


Para peserta kegiatan “Penyusunan Kurikulum Kursus dan Pelatihan Berbasis Kompetensi”, di Bekasi, pada Kamis–Sabtu (2-4/5) lalu. (Dwi Retno Kurniasari)

Penerapan konsep IFS ini rupanya menghasilkan keuntungan besar bagi para petani peserta program PKWU Pertanian di Lembaga Kursus Lembah Kamuning,. Hasil panen raya padi jenis mentik paling rendah mencapai 8 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar dengan rendemen terendah 62,5 %. (retno)

Post Terkait

Tinggalkan Komentar